Langsung ke konten utama

Super Elja yang Tak Terduga

 

Tulisan ini pernah dimuat di Football-tribe.com , 7 November 2019

https://football-tribe.com/indonesia/2019/11/07/super-elja-tak-terduga/

Daerah Istimewa Yogyakarta menempatkan satu wakil dalam kompetisi kasta tertinggi Indonesia, Liga 1 2019. Tim dari utara DIY, PSS Sleman menjadi utusan untuk tampil di liga paling prestisius di Republik ini. PSS menjadi satu dari 3 tim promosi liga 2 bersama Semen Padang dan Kalteng Putra untuk menjajaki keras nya liga 1 menggantikan PSMS Medan Sriwijaya FC, dan Mitra Kukar yang harus rela turun kasta di akhir musim 2018. Tak sekadar promosi, Super Elang Jawa, berstatus sebagai kampiun liga 2 setelah mengalahkan Semen Padang di final dngan skor 2-0.

PSS memulai persiapan untuk menyongsong liga terhitung pada Januari 2019. Kala itu persiapan dilakukan karna PSS juga masih mentas di ajang Piala Indonesia. Dimulai dengan mempertahankan Seto Nurdiyantoro sebagai caretaker , dan muka muka lama yang membawa PSS ke tahta juara. Pemain baru juga tak luput dari bidikan. 4 pemain asing, seluruhnya wajah baru di persepakbolaan Indonesia sesuai rekomendasi dari Seto. Namun sepanjang pra musim, PSS nampak tidak merekrut pemain lokal berlabel bintang liga 1 untuk memperkuat tim di musim pertama mentas di kasta teratas. Isu tak sedap pun bermunculan. Salah satu nya, bahwa CEO tak serius dalam menyikapi kegiatan bursa transfer pemain. Alhasil untuk sektor pemain lokal, Seto mengandalkan pemain dari liga 2, dengan hanya ditambah pemain senior berpengalaman liga 1 seperti Purwaka Yudhi dan Jajang Sukmara. Melihat skuad yang ada, Sleman fans tak memasang harapan terlalu tinggi bagi Laskar Sembada. Bertahan di liga 1 untuk musim pertama merupakan hal yang realistis.

Pekan pertama dimulai. Super Elja langsung dihadapkan tim raksasa sekaligus juara Piala Presiden Arema FC. Unggul cepat melalui Brian Ferreira, Arema berhasil menyamakan skor melalui sundulan kepala Sylvano Comvalius. Memasuki babak kedua PSS bermain lebih rapi dan trengginas. Alhasil PSS mampu menjungkalkan Singo Edan dengan skor 3-1. Awal yang baik bagi tim promosi.  Namun, justru setelah nya PSS sering mengalami inkonsistensi penampilan, terutama ketika melawan tim selevel. Yang mengkhawatirkan pula, pertandingan tersebut tak jarang yang dimainkan di Stadion Maguwoharjo. Tentu kondisi ini yang dikeluhkan Seto dan Sleman Fans. Mengingat suatu tim wajib tampil konsisten di sistem kompetisi penuh seperti Liga 1.

Namun siapa sangka, dengan bermodalkan pemain pemain muda, perlahan namun pasti PSS mampu berbicara lebih banyak setidaknya sampai pekan 25. Super Elja mampu bertengger di posisi 5 klasemen dengan hasil 10x menang, 9x seri dan 6 kekalahan dari 25 penampilan dengan poin 39. PSS mampu berada di atas tim tim besar dengan tradisi panjang seperti Persib, PSM Makassar, dan bahkan juara bertahan Persija Jakarta. Tak hanya itu, secara mengejutkan Super Elja menjadi tim dengan penampilan terbaik dalam laga tandang. Dari 13 penampilan tandang, PSS mampu meraup 20 poin, hasil dari 6x menang dan 2x bermain imbang, kemasukan 17 gol dan menceploskan bola ke gawang tuan rumah sebanyak 16 gol. Terbaru, Elang Jawa mampu menaklukkan Bajul Ijo Persebaya di Stadion Gelora Bung Tomo dengan skor 2-3. Catatan mentereng lain nya juga dibuat oleh penjaga gawang Ega Rizky. Goalie 25 tahun ini berhasil mencatatkan 6x nirbobol ketika dipercaya menjaga garis pertahanan terakhir PSS. Bahkan Ega Rizky masuk ke dalam jajaran 6 besar penjaga gawang dengan cleansheet terbanyak di liga 1. Tak cukup sampai di situ. Penyerang asing asal Ukraina PSS yang sempat diragukan ketika awal musim, Yevhen Bokashvili mampu menyodok ke papan atas jajaran topscore liga 1. Dengan 13 gol yang sudah dikemas nya, Baha, sapaan akrab Yevhen bertengger di posisi 3 bersama dengan Konate Makan, Beto Goncalves, dan Ilija Spasojevic dengan jumlah gol yang sama. Baha hanya terpaut 2 gol dari Marco Simic, dan 3 gol dari striker Persela Alex dos Santos di puncak top skor.

Torehan demi torehan fantastis ini tentu hal yang sangat tak diduga oleh semua kalangan, bahkan Sleman Fans sendiri. Persiapan awal musim yang tak sesuai harapan, dan status sebagai tim promosi membuat catatan mengesankan yang ditorehkan Laskar Sembada menjadi hal yang sangat wajib untuk disyukuri. Liga masih menyisakan 10 pekan, perjalanan Sleman masih cukup panjang. Teranyar, PSS akan menjadi tamu bagi PSIS Semarang di pekan 26. Konsistensi dan konsentrasi di setiap pertandingan tentu menjadi kunci untuk meraup 3 angka. Mari Sleman fans, senatiasa kita panjatkan doa agar Sang Super Elang Jawa tetap mampu mengepakkan sayap nya di langit tertinggi sepakbola Indonesia.

Tulisan ini pernah dimuat di football-tribe.com pada 7 November 2019 https://football-tribe.com/indonesia/2019/11/07/super-elja-tak-terduga/

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alfred Riedl dan Indonesia

Alfred Riedl. Siapa yang tak kenal dengan sosok satu ini terutama bagi pecinta sepakbola timnas Indonesia. Selasa waktu Austria, Alfred Riedl menghembuskan nafas terakhirnya. Kenangan akan sosok bertangan dingin kala membesut timnas Garuda kembali muncul. Kala pertama kali menukangin timnas berlaga di AFF 2010, semua mata langsung tertuju padanya. Kemampuan mengolah taktik dan disiplin terhadap pemain mampu menghadirkan permainan yang cantik diperagakan Irfan Bachdim dan kolega. Meluluhlantakkan Malaysia 5-1 di laga pembuka dan menyingkirkan Thailand 2-1 menjadi bukti. Meski pada akhir turnamen gelar runner up yang berhasil di capai, timnas ini dianggap menjadi salah satu timnas Indonesia terbaik pada dekade ini.  Riedl menjadi sosok yang begitu dicintai publik sepakbola tanah air. Di tengah ketidakberesan federasi setiap tahun, sosok berusia 70 tahun tersebut tetap bersedia menukangi timnas. AFF 2014 menjadi kesempatan kedua beliau. Naas, tak lolos fase grup serta untuk pertama k...

Firmino Sedang Loyo?

  Roberto Firmino Liverpool menjadi salah satu tim terbaik dunia dalam beberapa tahun terakhir. Satu yang menjadi senjata mematikan Liverpool yakni pada trio lini depan mereka, Sadio Mane, Roberto Firmino, dan Mohamed Salah. Musim 2020/2021 menjadi musim ke-empat, trio Firmansah -julukan mereka oleh fans Indonesia- bermain bersama. Superioritas ketiganya masih menjadi kunci Liverpool dalam membobol gawang lawan. Namun perhatian utama kini tertuju pada Firmino. Berbeda dengan Sadio Mane yang telah mengemas 5 gol dan 3 assists, serta Mo Salah berhasil menjarangkan 9 gol dan 1 assist, ia justru tampil undeperform di awal musim. Firmino baru mencetak 1 gol dan 2 assists. Penampilan di lapangan tak segarang musim-musim sebelumnya. Pressing Bobby terhadap pemain belakang lawan juga tak seketat biasanya. Lebih buruk lagi, shot on goal nya baru menyentuh angka 1 yang berbuah gol kala berjumpa Sheffield United. Beruntung ketika penampilan Firmino menurun, rekrutan anyar Diogo Jota dapat me...

Thiago: Kepingan yang Telah Ditemukan

#ThiagoFriday, tagar yang digaungkan di lini masa sosial media ketika pengumuman resmi Thiago Alcantara mendarat di Anfield. Akhirnya Liverpool menuntaskan saga transfer gelandang asal Spanyol dengan mahar sekitar 25 juta Euro. Banyak pihak pada awalnya meragukan keputusan The Reds membajak Thiago dari Munchen. Salah satu faktor karena usia Thiago yang akan menginjak kepala 3 tahun depan. Tapi nampaknya tidak bagi Juergen Klopp. Klopp paham betul kualitas sang gelandang.  Datangnya Thiago bagi saya sendiri sebagai fans adalah suatu berkah yang luar biasa. Liverpool memang tampil sangat baik dalam 2 musim terakhir, namun ada satu kekurangan yang sangat menonjol. Dalam beberapa laga terakhir, Liverpool sering kesulitan ketika menghadapi lawan yang bermain terlalu dalam, ditambah dimatikannya pergerakan duo fullback Trent Alexander Arnold di kanan dan Andy Robertson di kiri. Solusi dapat di dapatkan dari sektor tengah, namun apa daya gelandang-gelandang Liverpool bertipe pekerja ...